Puasa – Kita atau Perusahaan Yang Menikmatinya ?

Menjelang puasa banyak orang yang sangat antusias untuk menyambutnya, salah satunya adalah berarti menyambut akan datangnya lebaran (Hari Raya Idul Fitri). Bulan suci ini akan dijalani dengan berpuasa oleh para umat yang menjalankannya, dan sudah dengan tekad yang kuat para umat bersiap-siap untuk menantikannya. Tetapi apakah di bulan suci ini juga perusahaan juga ikut mendapatkan dampak puasa terhadap omzet perdagangannya ?

Perusahaan-perusahaan yang bergerak khususnya dalam bidang ritel yaitu makanan, minuman, atau pun pakaian turut menyambut jelang hari raya tersebut. Rata-rata orang Indonesia makan 3 kali dalam sehari, akan tetapi dengan adanya hari raya puasa maka jumlah makan per hari akan berkurang menjadi hanya 2 kali. Tetapi apakah omzet perusahaan akan menjadi berkurang dengan itu atau menjadi lebih besar ? Mari kita simak bersama-sama…

Tentunya kita juga berharap perusahaan juga turut bisa merasakan antusias bulan puasa ini dengan memberikan kepada konsumen sebuah pengurangan harga. Kenyataannya memang ada berbagai sambutan meriah oleh para perusahaan atau toko pakaian dengan berbagai discount. Tetapi benarkah discount itu adalah pengurangan harga yang sejati ? Lihatlah berbagai fenomena sebelumnya, beberapa bulan sebelumnya harga sudah perlahan-lahan naik sehingga dengan berbagai discount tersebut perusahaan akan tetap mendapatkan harga yang sama (menarik kan?), dan berapa banyak orang yang berbondong-bondong menyerbu mal, toko pakaian, dan sebagainya. Dan tentunya justru para pedagang dan perusahaan yang lebih menantikan hari raya ini dibandingkan umat yang menjalankannya.

Yuk mari ikita simak harga makanan. Harga cabai di Kupang saat ini sudah mencapai Rp. 50.000,-/ per kg dari sebelumnya hanya Rp. 35.000,- yang berarti adanya kenaikan harga 42,9% (tinggi juga ya…). Apakah ada dampak khusus bagi kita ? Pastinya ada, karena rata-rata orang Indonesia dikenal dengan gemarnya makanan pedas (ini pasti memakai cabai kan ?J ). Nah bayangkan saja kalau harga cabai naik 42,9% apakah harga makanan naik dengan persentase yang sama ? Anggap saja harga makanan naik 20% berarti kebutuhan biaya hidup untuk makanan itu naik 20% lho.

Dengan adanya bulan puasa ini, maka ajakan untuk berbuka puasa bersama akan semakin banyak, dan yang pastinya itu juga akan di restoran atau pun rumah makan. Dan sudah bisa dipastikan harganya sudah naik lebih kurang 20% (terbukti ikut merayakan puasa rumah makannya J). Belum lagi ditambah dengan tajil dan makanan penutup lainnya. Berbagai hidangan di dalam daftar menu juga membuat air liur tak kuasa tertahan, sehingga jumlah menu yang dipesan menjadi semakin banyak. Ya… tentu saja ini yang diharapkan oleh perusahaan, dan kita mungkin tak kuasa juga menahannya.

Ada 7 kiat praktis selama Puasa dan menjelang Ramadhan :

  1. Jadikan berbuka adalah untuk ibadah, bukan untuk perayaan bersama teman-teman.
  2. Belilah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan bukan godaan keinginan.
  3. Ingatlah selalu ada alternative untuk pembuka puasa, dan tidak harus dengan tajil.
  4. Jadikanlah hari raya puasa untuk mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa, bukan sarana untuk berbelanja mempersiapkan hari raya Lebaran.
  5. Perbanyaklah amal dan sedekah, bukan untuk ajang perlombaan penampilan.
  6. Tetap rutin menabung dan berinvestasi untuk masa depan.
  7. Selesaikan kewajiban hutang atau tetap melakukan pembayaran kewajiban yang sudah ada.

Dengan menjalankan kiat-kiat tersebut, maka dapat membantu kita untuk menjalankan puasa dengan baik tanpa harus teriming-iming dengan banyaknya penawaran yang disediakan oleh perusahaan.

Selamat bersiap-siap menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan.

 

Catch Your Dream Now.

Ronnie Francis CFP® QWP® AEPP® MH. CI. M.NLP

Dream Catcher Motivator

Comments are closed.

%d bloggers like this: